Sahabat, kejadian ini terjadi saat saya bersama beberapa rekan kerja istirahat makan siang di warung tenda samping kantor kami. Saat kami tengah menikmati makan siang sambil ngobrol, tiba-tiba terjadi kegaduhan dijalanan tepat disamping tenda kami. Kami pun secara reflek bergegas keluar tenda dan mencoba melihat serta mencari tahu penyebab kegaduhan tersebut.
Pada saat kami sudah diluar, ada segerombolan orang sedang mengerubuti dua orang yang sepertinya sedang berselisih paham. Satu orang dengan celana pendek dan berkaos sport warna putih mengenakan rompi kulit warna hitam, tubuhnya cukup berisi, sementara yang satunya memakai celana jin lusuh berkaos coklat muda dan bertopi sambil menggendong tas punggung hitam yang sudah sobek sudut-sudutnya.
Kami melihat orang yang pertama mengangkat sepeda diatas kepalanya kemudian membanting sepeda tersebut ke aspal jalanan. Kemudian ia berlari mengejar orang kedua, dan mendaratkan beberapa kali pukulan dan tendangan ketubuhnya. Orang yang dipukul dan ditendang jatuh ke aspal sambil merintih kesakitan. Orang-orang yang melihat kejadian tersebut, sebenarnya sudah berusaha mencoba melerai dan menghalangi pertikaian tersebut. Akan tetapi mereka sudah tidak kuasa menahan tenaga orang yang sedang marah tersebut.
Saya mencoba mencari tahu apa yang menjadi sebab kemarahan orang yang membanting sepeda tersebut. Sahabat, sungguh ‘menakjubkan’ apa yang menjadi penyebab kemarahan orang tersebut. Masalahnya ternyata hanyalah sebuah kejadian yang sangat-sangat sepele.
Kejadian bermula ketika Si Pemarah tersebut hendak membuka pintu mobil-nya, dan tiba-tiba tanpa sengaja ada seorang pengendara sepeda yang menyenggol badannya, sehingga mukanya yang tambun itu kejedok ke pintu mobilnya. Memang saya lihat ada sedikit memar dibawah kelopak mata sebelah kanan Si Pemarah tersebut. Dan itulah yang menyebabkan dia bereaksi sangat keras seperti itu. Sungguh kejadian yang memalukan menurut saya, sebab Si pengendara sepeda sudah meminta maaf dan mengakui keteledorannya dalam mengendarai sepeda. Meskipun boleh dibilang kesalahan tidak semata-mata karena keteledorannya, tetapi bisa juga disebabkan oleh Si Kaya yang Pemarah tersebut sendiri. Kenapa dia waktu mau keluar dari mobil dan membuka pintu tidak lihat-lihat dulu ke arah belakang.
Sahabat, akhirnya pertikaian tersebut untuk sementara dapat direda, Si Pengendara sepeda sudah pergi meninggalkan lokasi kejadian. Akan tetapi Si Kaya yang Pemarah nampaknya masih memendam dendam, terbukti dia masih berusaha mengejar Si Pengendara Sepeda. Dan kita tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya.
Selepas kepergian Si Kaya nan Pemarah tersebut, saya kembali meneruskan makan siang. Dan pembicaraan orang-orang masih seputar kejadian yang baru saja terjadi. Pada umumnya mereka mencemoh dan menyalahkan Si Kaya nan Pemarah tadi, dan tidak ada suara-suara yang menaruh simpati pada sikapnya yang arogan dan terkesan sombong tersebut.
Sahabat, dari kejadian tersebut saya menjadi berpikir dan merenung. Orang tidak akan mendapatkan penghormatan yang baik dengan cara merendahkan orang lain. Buktinya ya, kejadian yang barusan saya lihat sendiri. Bukankah secara kasat mata harusnya Si Pengendara mobil mendapatkan penghormatan yang lebih tinggi dari Si Pengendara sepeda, sebab dia lebih kaya dan lebih berpendidikan tentunya. Tetapi karena sikapnya dan kemarahan yang berlebihan hanya karena masalah yang sangat-sangat sederhana, Ia sampai tega menghina orang lain dengan membanting sepedanya dijalanan seakan-akan sepeda itu tidak ada harganya sama sekali, kemudian diteruskan dengan pukulan dan tendangan yang membabi buta. Sungguh sangat memalukan.
Sahabat, mungkin ini bisa jadi pegangan buat kita “Kehormatan Tidak Akan Anda Dapatkan dengan Jalan Merendahkan Orang Lain.”
Sahabat, semoga ini bermanfaat buat kita semua. Dan menjadikan kita lebih arif dan bijak dalam bertindak di kehidupan dunia ini. Sadari dan renungilah, semoga Tuhan berkenan pada diri kita.
Senin, 25 Januari 2010
Jumat, 28 Agustus 2009
Sifat Kita Yang Sesungguhnya
Sahabat, tadi waktu sholat jumat saya mendengarkan khutbah jumat yang lumayan membuka dan memberi jawab atas pertanyaanku selama ini. meski sambil ngantuk-ngantuk waktu mendengarnya.
Ada suatu komentar yang mungkin sudah sering kita dengar dari sang khotib. "Pada bulan puasa syetan akan di belenggu" tak lupa khotib mengatakan itu adalah hadist nabi.
Ini yang menjadi tanda tanya bagi saya dari dulu, dan hari ini baru saya dapatkan jawabannya. pertanyaannya cukup sederhana:
"Jika benar syetan di bulan puasa ini di belenggu, lantas kenapa masih saja kita melakukan perbuatan-perbuatan yang kurang baik di bulan puasa ini?"
Iya tho, buktinya kita kadang masih bermalas-malasan, padahal kita tahu malas adalah kerjaan syetan. Tidur seharian menunggu waktu berbuka puasa. Perhatikan juga ketika kita pulang dari bekerja, dijalanan begitu banyak orang-orang yang tergesa-gesa untuk segera sampai rumah. sehingga mengabaikan kepentingan orang lain, dengan berlalu lintas tidak tertib. Ketika jalanan jadi macet, lantas mengeluh dan ada rasa kesal didalam hati. Merugikan orang lain, dsb-nya.
Sahabat, dari situlah saya jadi memahami bahwa benar adanya kata Rasulullah, bahwa dibulan puasa ini syetan di belenggu. Dan apa yang kita lakukan dibulan puasa ini adalah cermin asli sifat yang kita miliki. Syetan tidak berperan dalam perbuatan-perbuatan yang kita lakukan.
Bukankah Allah berkata manusia memang hobby tergesa-gesa dan berkeluh kesah, jadi meski pun syetan sudah dibelenggu, kita tetap melakukan perbuatan yang kurang terpuji tersebut. Dan mungkin ini adalah salah satu anugrah dari Allah yang belum pernah kita sadari sebelumnya. Yang kita tahu selama ini adalah puasa adalah menahan diri dari makan minum dan hawa nafsu, tetapi kita tidak menyadari bahwa dibalik ungkapan nabi tersebut ada makna yang tersembunyi.
Sahabat, saya merasa dibulan puasa inilah saat yang tepat buat kita mengukur sejauh apa keburukan diri kita. Kemudian melakukan intropeksi diri, agar hal-hal yang kurang baik di diri kita dapat kita perbaiki. Sebab saat inilah, Sifat kita yang asli itu terlihat dengan jelas-nya. Bukan karena hasutan syetan, tapi memang itulah sifat kita yang sesungguhnya. Waallahua'lam bishowab.
Sahabat, semoga ini bermanfaat buat kita semua. Dan menjadikan kita lebih arif dan bijak dalam bertindak di kehidupan dunia ini. Sadari dan renungilah, semoga Tuhan berkenan pada diri kita.
Ada suatu komentar yang mungkin sudah sering kita dengar dari sang khotib. "Pada bulan puasa syetan akan di belenggu" tak lupa khotib mengatakan itu adalah hadist nabi.
Ini yang menjadi tanda tanya bagi saya dari dulu, dan hari ini baru saya dapatkan jawabannya. pertanyaannya cukup sederhana:
"Jika benar syetan di bulan puasa ini di belenggu, lantas kenapa masih saja kita melakukan perbuatan-perbuatan yang kurang baik di bulan puasa ini?"
Iya tho, buktinya kita kadang masih bermalas-malasan, padahal kita tahu malas adalah kerjaan syetan. Tidur seharian menunggu waktu berbuka puasa. Perhatikan juga ketika kita pulang dari bekerja, dijalanan begitu banyak orang-orang yang tergesa-gesa untuk segera sampai rumah. sehingga mengabaikan kepentingan orang lain, dengan berlalu lintas tidak tertib. Ketika jalanan jadi macet, lantas mengeluh dan ada rasa kesal didalam hati. Merugikan orang lain, dsb-nya.
Sahabat, dari situlah saya jadi memahami bahwa benar adanya kata Rasulullah, bahwa dibulan puasa ini syetan di belenggu. Dan apa yang kita lakukan dibulan puasa ini adalah cermin asli sifat yang kita miliki. Syetan tidak berperan dalam perbuatan-perbuatan yang kita lakukan.
Bukankah Allah berkata manusia memang hobby tergesa-gesa dan berkeluh kesah, jadi meski pun syetan sudah dibelenggu, kita tetap melakukan perbuatan yang kurang terpuji tersebut. Dan mungkin ini adalah salah satu anugrah dari Allah yang belum pernah kita sadari sebelumnya. Yang kita tahu selama ini adalah puasa adalah menahan diri dari makan minum dan hawa nafsu, tetapi kita tidak menyadari bahwa dibalik ungkapan nabi tersebut ada makna yang tersembunyi.
Sahabat, saya merasa dibulan puasa inilah saat yang tepat buat kita mengukur sejauh apa keburukan diri kita. Kemudian melakukan intropeksi diri, agar hal-hal yang kurang baik di diri kita dapat kita perbaiki. Sebab saat inilah, Sifat kita yang asli itu terlihat dengan jelas-nya. Bukan karena hasutan syetan, tapi memang itulah sifat kita yang sesungguhnya. Waallahua'lam bishowab.
Sahabat, semoga ini bermanfaat buat kita semua. Dan menjadikan kita lebih arif dan bijak dalam bertindak di kehidupan dunia ini. Sadari dan renungilah, semoga Tuhan berkenan pada diri kita.
Senin, 03 Agustus 2009
KEBAHAGIAN SEJATI
Sahabat, dulu semasa saya masih tinggal di Yogyakarta; pada suatu ketika teman kos bertanya kepada saya tentang tujuan hidup saya. Saya jawab “Aku ingin hidup sukses, kaya raya, dan semua yang enak-enak”. Itu adalah jawaban tolol yang dulu saya berikan, sebelum saya memahami hakekat kehidupan. Kemudian teman kos yang lebih senior bertanya kembali, kalau kamu sudah sukses, sudah kaya raya, semua yang kau cita-citakan tercapai, lalu apa lagi yang akan kamu cari?
Pertanyaan terakhir itu, terus membayangi pikiran saya waktu itu dan akhirnya saya sadari bahwa semua yang kita cita-citakan, semua yang menjadi impian kita tujuannya adalah satu yaitu Hidup Bahagia. Ok, sekarang kita sudah punya patokan bahwa dalam hidup ini kita inginkan kebahagian. Terserah bagaimana kita mendefinisikan kebahagaian, sebab ukuran kebahagian masing-masing Pribadi adalah berbeda-beda. Ada sebagian dari kita yang merasa bahagia dengan kesederhanaannya, ada yang bahagia dengan segala harta kekayaanya, ada yang bahagia karena ilmu-nya, keluarga-nya, ke-imanan-nya, cinta-nya dan ukuran-ukuran lainnya.
Kalau kita perhatikan dan kita renungkan secara seksama, kebahagian itu adalah pekerjaan hati. Bagaimanapun keadaan kita saat ini, kalau hati kita merasa nyaman, merasa senang, tenang dan damai, maka kebahagian itu akan hadir dengan sendirinya. Andaikan kita miskin, lapar, dan terhina akan tetapi kalau hati kita tidak merasa demikian maka itulah kebahagiaan. Yang menjadi masalah sekarang adalah bagaimana kita menciptakan suasana hati agar tetap diliputi dengan kebahagiaan. Sebab tidak sedikit kebahagian yang kita rasakan dalam sekejap bisa menjadi kesedihan dan penderitaan.
Sahabat, kita hidup dilingkungan yang dinamis. Yang namanya kebahagian dan kesedihan akan selalu datang silih berganti, seperti halnya bergulirnya siang dan malam. Kita tidak bisa menghindari yang namanya perasaan sedih dan berduka, seperti halnya kita tidak bisa berharap kebahagiaan akan selalu menghampiri diri kita setiap saat. Kesedihan akan selalu datang, bahkan ketika kita kehilangan perasaan bahagia itu sendiri, kita akan bersedih karenanya. Ya kita bersedih kenapa kok hanya sebentar kita bertemu dengan kawan-kawan lama kita, padahal kita sangat bahagia sekali bisa berjumpa dengan mereka. Kenapa kok rasanya cuma sekejap saja, kok cepat sekali…. Dan banyak lagi kenapa-kenapa yang lainnya yang membuat diri kita malah menjadi sedih dan berduka. Saya sedih karena ini, karena itu, hati kita jadi layu dan tidak bergairah. Senyum yang biasanya menghiasi keceriaan kita juga menghilang. Lantas apa yang dapat kita perbuat?
Sahabat, Kebahagian Sejati hanya ada dalam hati kita masing-masing. Kita tidak bisa berharap orang lain bekerja untuk membuat diri kita bahagia. Yang bisa membuat diri kita bahagia adalah diri kita sendiri. Caranya bukan dengan menghindari kesedihan dan memaksa hati untuk bergembira, dengan menyibukkan diri dan melarikan diri dari realitas yang ada, bukan seperti itu caranya, . Tetapi caranya sungguh sangat sederhana, yaitu PERHATIKAN PERUBAHAN SUASANA DALAM HATI ANDA. Dengan menyadari keberadaannya (kesedihan dan kebahagian), Insya Allah, kita akan memiliki batin yang seimbang. Tidak terlalu bergembira disaat kebahagian datang dan tidak terlalu bersedih manakala penderitaan menghantui. Semua akan terlihat sama saja, antara sedih dan bahagia, antara duka dan gembira. Itulah inti dari Kebahagian Sejati, Kebahagian yang sesungguhnya kita cari-cari selama ini.
Sahabat, semoga ini bermanfaat buat kita semua. Dan menjadikan kita lebih arif dan bijak dalam bertindak di kehidupan dunia ini. Sadari dan renungilah, semoga Tuhan berkenan pada diri kita.
share on facebook
Pertanyaan terakhir itu, terus membayangi pikiran saya waktu itu dan akhirnya saya sadari bahwa semua yang kita cita-citakan, semua yang menjadi impian kita tujuannya adalah satu yaitu Hidup Bahagia. Ok, sekarang kita sudah punya patokan bahwa dalam hidup ini kita inginkan kebahagian. Terserah bagaimana kita mendefinisikan kebahagaian, sebab ukuran kebahagian masing-masing Pribadi adalah berbeda-beda. Ada sebagian dari kita yang merasa bahagia dengan kesederhanaannya, ada yang bahagia dengan segala harta kekayaanya, ada yang bahagia karena ilmu-nya, keluarga-nya, ke-imanan-nya, cinta-nya dan ukuran-ukuran lainnya.
Kalau kita perhatikan dan kita renungkan secara seksama, kebahagian itu adalah pekerjaan hati. Bagaimanapun keadaan kita saat ini, kalau hati kita merasa nyaman, merasa senang, tenang dan damai, maka kebahagian itu akan hadir dengan sendirinya. Andaikan kita miskin, lapar, dan terhina akan tetapi kalau hati kita tidak merasa demikian maka itulah kebahagiaan. Yang menjadi masalah sekarang adalah bagaimana kita menciptakan suasana hati agar tetap diliputi dengan kebahagiaan. Sebab tidak sedikit kebahagian yang kita rasakan dalam sekejap bisa menjadi kesedihan dan penderitaan.
Sahabat, kita hidup dilingkungan yang dinamis. Yang namanya kebahagian dan kesedihan akan selalu datang silih berganti, seperti halnya bergulirnya siang dan malam. Kita tidak bisa menghindari yang namanya perasaan sedih dan berduka, seperti halnya kita tidak bisa berharap kebahagiaan akan selalu menghampiri diri kita setiap saat. Kesedihan akan selalu datang, bahkan ketika kita kehilangan perasaan bahagia itu sendiri, kita akan bersedih karenanya. Ya kita bersedih kenapa kok hanya sebentar kita bertemu dengan kawan-kawan lama kita, padahal kita sangat bahagia sekali bisa berjumpa dengan mereka. Kenapa kok rasanya cuma sekejap saja, kok cepat sekali…. Dan banyak lagi kenapa-kenapa yang lainnya yang membuat diri kita malah menjadi sedih dan berduka. Saya sedih karena ini, karena itu, hati kita jadi layu dan tidak bergairah. Senyum yang biasanya menghiasi keceriaan kita juga menghilang. Lantas apa yang dapat kita perbuat?
Sahabat, Kebahagian Sejati hanya ada dalam hati kita masing-masing. Kita tidak bisa berharap orang lain bekerja untuk membuat diri kita bahagia. Yang bisa membuat diri kita bahagia adalah diri kita sendiri. Caranya bukan dengan menghindari kesedihan dan memaksa hati untuk bergembira, dengan menyibukkan diri dan melarikan diri dari realitas yang ada, bukan seperti itu caranya, . Tetapi caranya sungguh sangat sederhana, yaitu PERHATIKAN PERUBAHAN SUASANA DALAM HATI ANDA. Dengan menyadari keberadaannya (kesedihan dan kebahagian), Insya Allah, kita akan memiliki batin yang seimbang. Tidak terlalu bergembira disaat kebahagian datang dan tidak terlalu bersedih manakala penderitaan menghantui. Semua akan terlihat sama saja, antara sedih dan bahagia, antara duka dan gembira. Itulah inti dari Kebahagian Sejati, Kebahagian yang sesungguhnya kita cari-cari selama ini.
Sahabat, semoga ini bermanfaat buat kita semua. Dan menjadikan kita lebih arif dan bijak dalam bertindak di kehidupan dunia ini. Sadari dan renungilah, semoga Tuhan berkenan pada diri kita.
share on facebook
Senin, 20 Juli 2009
Apa Adanya
Jadilah manusia sebagaimana adanya, jalani apa yang memang harus dijalani. Tak perlu kita terpaku pada apa kehendak hati, sebab antara mahluk dan Pencipta Alam Semesta sama-sama memiliki kehendak. Oleh karena itu, mahluk selamanya tidak akan pernah dapat mengalahkan kehendak Sang Pencipta-nya.
Pandanglah segala sesuatu dengan apa adanya, bertanyalah pada hati kecilmu tentang segala yang diingini. Maka jawabnya ada pada diri sendiri yang batinnya sudah diliputi dengan mawas diri.
Hidup ini penuh dengan keajaiban yang datangnya tidak terduga, dan tak disangka-sangka. Jika manusia sadar akan hal itu, maka ia akan jatuh tersungkur menyesali kebodohan dan keangkuhannya. Air matanya jadi kering karena penyesalan yang tidak ada habisnya. Saat bencana datang hanya satu yang dapat menolongnya, yang selama ini tidak pernah diperhatikannya dengan hati yang sadar.
Hidup ini lebih mudah untuk menyalahkan daripada dipersalahkan, lebih mudah menilai ketimbang dinilai. Tetapi hidup ini sebenarnya bukan untuk menilai dan dinilai, hidup ini diciptakan untuk dinikmati serta dihayati dengan apa adanya. Batin yang tenang dan seimbang tak akan goyah dengan nilai-nilai. Sebab manusia tidak berhak menilai, semua nilai adalah milik Sang Pencipta.
”Bila bumi terbentang di bawah kita, kenapa susah payah mencari tempat berbaring? Bila lengan ini masih ada, kenapa kita masih membutuhkan bantal? Bila telapak tangan kita masih ada, mengapa bingung mencari piring dan cangkir? Bila cuaca udara masih ada, kulit kayu dan sebagainya tersedia, mengapa masih membutuhkan sutera?” [dikutip dari falsafah Bhagavata]
Pandanglah segala sesuatu dengan apa adanya, bertanyalah pada hati kecilmu tentang segala yang diingini. Maka jawabnya ada pada diri sendiri yang batinnya sudah diliputi dengan mawas diri.
Hidup ini penuh dengan keajaiban yang datangnya tidak terduga, dan tak disangka-sangka. Jika manusia sadar akan hal itu, maka ia akan jatuh tersungkur menyesali kebodohan dan keangkuhannya. Air matanya jadi kering karena penyesalan yang tidak ada habisnya. Saat bencana datang hanya satu yang dapat menolongnya, yang selama ini tidak pernah diperhatikannya dengan hati yang sadar.
Hidup ini lebih mudah untuk menyalahkan daripada dipersalahkan, lebih mudah menilai ketimbang dinilai. Tetapi hidup ini sebenarnya bukan untuk menilai dan dinilai, hidup ini diciptakan untuk dinikmati serta dihayati dengan apa adanya. Batin yang tenang dan seimbang tak akan goyah dengan nilai-nilai. Sebab manusia tidak berhak menilai, semua nilai adalah milik Sang Pencipta.
”Bila bumi terbentang di bawah kita, kenapa susah payah mencari tempat berbaring? Bila lengan ini masih ada, kenapa kita masih membutuhkan bantal? Bila telapak tangan kita masih ada, mengapa bingung mencari piring dan cangkir? Bila cuaca udara masih ada, kulit kayu dan sebagainya tersedia, mengapa masih membutuhkan sutera?” [dikutip dari falsafah Bhagavata]
Arti Sebuah Kehidupan
Sahabat, senang hari ini saya dapat berjumpa dengan sahabat semuanya dihari yang cerah dan gemilang ini. Salam sejahtera buat sahabat tercinta semuanya.
Sahabat, tanpa terasa waktu telah berlalu dari hadapan kita. Dan berkat bimbingan serta ridho-NYA, kita masih bisa berbuat banyak dalam hidup ini. Dan perkenankan kali ini saya berbagi tentang arti dan makna hidup ini, sejauh yang saya pahami selama ini.
Sahabat, hidup kita ini akan memiliki arti dan berarti bagi segenap alam semesta manakala dalam kehidupan ini, diri kita senantiasa mengembangkan dan menumbuhkan rasa cinta kasih, kebaikan, serta kearifan dan kebijaksanaan dalam menjalaninya. Cinta kasih yang seperti apakah yang pantas kita kembangkan dalam hati kita? Cinta kasih yang tidak mengikat diri kita, cinta kasih yang membebaskan diri kita dari segala belenggu-belenggu dan pembatasan-pembatasan dalam berbagi. Berbagilah cinta kasih selama itu memang layak untuk kita bagi kepada seluruh mahluk tanpa terkecuali. Berbuat baiklah semampu yang dapat kita lakukan, terhadap siapa pun jua. Berbuat baik, dengan membersihkan diri dari perasaan mengharap pujian dan balasan pahala. Itulah jiwa orang yang arif dan bijaksana, dimana segala tindakkan sudah tidak mengharapkan balasan. Jiwa yang sudah menyatu dengan nilai-nilai Illahiah, bukankah Allah, selalu berbuat baik kepada seluruh umat-NYA tanpa pernah meminta imbalan dari hamba-hamba-NYA?
Sahabat, lakukanlah hal yang terbaik yang bisa sahabat lakukan, karena rasa cinta, karena kasih sayang, dengan penuh simpatik. Cinta yang universal, bukan cinta yang akan mengikat diri kita. Semoga dunia selalu memberikan kesempatan kepada diri kita untuk berbuat baik dan mengembangkan dhamma.
”Kehidupan bagaikan buih yang lalu lalang di atas gelombang samudra,
Hanya dua hal yang nampak jelas bagaikan batu karang;
Belas kasihan kepada penderitaan orang lain,
Dan keberanian yang harus ada pada diri sendiri.”
Sahabat, sadarilah dan renungilah semoga Allah berkenan pada diri kita.
Sahabat, tanpa terasa waktu telah berlalu dari hadapan kita. Dan berkat bimbingan serta ridho-NYA, kita masih bisa berbuat banyak dalam hidup ini. Dan perkenankan kali ini saya berbagi tentang arti dan makna hidup ini, sejauh yang saya pahami selama ini.
Sahabat, hidup kita ini akan memiliki arti dan berarti bagi segenap alam semesta manakala dalam kehidupan ini, diri kita senantiasa mengembangkan dan menumbuhkan rasa cinta kasih, kebaikan, serta kearifan dan kebijaksanaan dalam menjalaninya. Cinta kasih yang seperti apakah yang pantas kita kembangkan dalam hati kita? Cinta kasih yang tidak mengikat diri kita, cinta kasih yang membebaskan diri kita dari segala belenggu-belenggu dan pembatasan-pembatasan dalam berbagi. Berbagilah cinta kasih selama itu memang layak untuk kita bagi kepada seluruh mahluk tanpa terkecuali. Berbuat baiklah semampu yang dapat kita lakukan, terhadap siapa pun jua. Berbuat baik, dengan membersihkan diri dari perasaan mengharap pujian dan balasan pahala. Itulah jiwa orang yang arif dan bijaksana, dimana segala tindakkan sudah tidak mengharapkan balasan. Jiwa yang sudah menyatu dengan nilai-nilai Illahiah, bukankah Allah, selalu berbuat baik kepada seluruh umat-NYA tanpa pernah meminta imbalan dari hamba-hamba-NYA?
Sahabat, lakukanlah hal yang terbaik yang bisa sahabat lakukan, karena rasa cinta, karena kasih sayang, dengan penuh simpatik. Cinta yang universal, bukan cinta yang akan mengikat diri kita. Semoga dunia selalu memberikan kesempatan kepada diri kita untuk berbuat baik dan mengembangkan dhamma.
”Kehidupan bagaikan buih yang lalu lalang di atas gelombang samudra,
Hanya dua hal yang nampak jelas bagaikan batu karang;
Belas kasihan kepada penderitaan orang lain,
Dan keberanian yang harus ada pada diri sendiri.”
Sahabat, sadarilah dan renungilah semoga Allah berkenan pada diri kita.
Rabu, 01 Juli 2009
Kemalangan adalah Keberuntungan
Sahabat, hari ini saya iseng-iseng buka facebook. Iseng-iseng searching, klik sana, klik sini, tidak tahu dari mana asal mulanya sampai saya nyasar ke sebuah notes di halaman facebook seseorang. Hati saya sungguh trenyuh membaca sebuah kisah kehidupan seseorang yang ditulis di notes tersebut. Yang intinya Beliau senantiasa di rundung kemalangan dalam kehidupannya, sehingga seolah-olah Beliau meng-’gugat’ kepada Sang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, mengapa ujian tidak pernah lepas dari kehidupannya [Semoga Beliau dikaruniai kesabaran dalam menghadapinya].
Sahabat, siapa sih orang yang tidak sedih ditinggalkan orang-orang tercinta-nya. Semua orang, Insya Allah, pasti akan bersedih. Bahkan seorang penjahat yang paling bejat pun akan merasa sedih dan menangis bila hal itu menimpanya. Apalagi kesedihan dan kemalangan itu menimpa diri kita secara terus menerus dan seakan-akan tidak ada habis-habisnya. Dan kadang kala disaat-saat seperti inilah jiwa kita menjadi labil, keimanan kita benar-benar di sedang di ujung tanduk, akan kah kita tetap teguh pendirian dengan keimanan kita atau menafikkan keberadaan-NYA. Mungkin kita merasa bahwa Allah tidak Adil, Allah tidak sayang, Allah tidak mengasihi, dan sebagainya. Sahabat, hal itu pernah saya alami sendiri dan hampir-hampir saya menjadi Atheis karenanya. Alhamdulillah, Allah berkenan menunjukkan kebesaran Cinta dan Kasihsayang-NYA kepada saya. Dan itulah yang akan saya bagi kepada sahabat-sahabat tercinta.
Sahabat, ketahuilah sesungguhnya kemalangan, kesedihan, dan cobaan yang datang bertubi-tubi menimpa diri kita adalah sebuah anugrah yang tak ternilai harganya. Sebab dengan ujian tersebut Allah hendak memilih kita menjadi kekasih-NYA dan semakin mendekatkan diri kita kepada-NYA. Bukankah dengan jalan kemalangan dan kesialan yang datang bertubi-tubi akan membuat diri kita semakin banyak berdoa dan berkeluh kesah kepada-NYA, sehingga semakin banyak waktu yang kita gunakan untuk selalu mengingat-NYA. Yang dengan demikian Allah hendak membuat diri kita kelak diingat oleh-NYA seperti kita mengingat-NYA selama hidup di dunia ini.
Sahabat, Allah memberikan dua pilihan kepada kita. Pertama, Kita diberikannya hidup dengan segala kemudahan dan kemewahannya sehingga kita menjadi seorang yang lalai mengingat-NYA sehingga nanti Allah pun akan melupakan kita seperti kita melupakan-NYA selama hidup di dunia ini. Kedua, Kita diberikan hidup dengan berbagai ujian dan kemalangan yang menerpa sepanjang hidup, sehingga kita senantiasa rajin ber-istighfar dan berdoa seraya mengingat-NYA dan kelak di akherat Allah akan menyambut kita dengan Senyuman serta mendekat-kan diri kita Kepada-NYA dan itu adalah kekal abadi. Kira-kira mana yang akan kita pilih? Kebahagian yang sesaat di dunia ini atau Kemalangan sesaat yang kita pilih? Silahkan renungkan sendiri.
Sahabat, kalau boleh saya ibaratkan diri kita ini seperti Guci dari negeri Tiongkok yang terkenal itu. Guci yang sangat indah dan kokoh itu dulu hanyalah segumpal tanah liat. Dan untuk menjadi sebuah guci yang indah harus mengalami beberapa fase proses yang panjang. Dari mulai tanah liat tersebut di hantam cangkul, di injak-injak, di guyur air, di press, kemudian di remet-remet untuk menjadi bentuk tertentu, di gores dengan pisau untuk menciptakan ornament, kemudian di jemur di terik matahari, kemudian di bakar di dalam oven bersuhu 1000 derajat. Dan hasilnya sungguh menakjubkan. Bukankah diri kita juga berasal dari tanah liat? Dan untuk menjadi bagus kita harus ditempa dengan segala bentuk ujian dan kemalangan, seperti layaknya guci keramik tersebut.
Sahabat, setiap diri kita mungkin pernah merasakan hal-hal yang kurang mengenakan dan tidak kita harapkan dalam hidup ini. Kita menjadi sedih karenanya, itu wajar dan memang seharusnya kita bersedih dan berduka. Dan bersyukurlah karena dengan kemalangan dan kesedihan itu akan membawa diri kita semakin dekat kepada-NYA, semakin banyak waktu yang kita gunakan untuk senantiasa mengingat-NYA, dan banyak hal lain lagi yang akan menuntun diri kita menjadi manusia yang mawas diri di hadapan-NYA. Bukankah Dia sudah menjelaskan kepada kita, bahwa hidup di dunia ini sekedar main-main belaka. Sebab kehidupan sejati akan kita dapatkan setelah kehidupan ini.
Sahabat, semoga uraian saya ini dapat menginspirasi buat pencerahan hati kita. Ingatlah Allah tidak pernah Tidur, Dia senantiasa sibuk mengurus urusan mahluk-NYA. Dan kita senantiasa diperhatikan oleh-NYA. Percayalah bahwa kemalangan yang kita dapati adalah sebuah keberuntungan yang tidak ternilai harganya. Sadarilah dan renungilah, semoga Allah berkenan pada diri kita. Salam.
Sahabat, siapa sih orang yang tidak sedih ditinggalkan orang-orang tercinta-nya. Semua orang, Insya Allah, pasti akan bersedih. Bahkan seorang penjahat yang paling bejat pun akan merasa sedih dan menangis bila hal itu menimpanya. Apalagi kesedihan dan kemalangan itu menimpa diri kita secara terus menerus dan seakan-akan tidak ada habis-habisnya. Dan kadang kala disaat-saat seperti inilah jiwa kita menjadi labil, keimanan kita benar-benar di sedang di ujung tanduk, akan kah kita tetap teguh pendirian dengan keimanan kita atau menafikkan keberadaan-NYA. Mungkin kita merasa bahwa Allah tidak Adil, Allah tidak sayang, Allah tidak mengasihi, dan sebagainya. Sahabat, hal itu pernah saya alami sendiri dan hampir-hampir saya menjadi Atheis karenanya. Alhamdulillah, Allah berkenan menunjukkan kebesaran Cinta dan Kasihsayang-NYA kepada saya. Dan itulah yang akan saya bagi kepada sahabat-sahabat tercinta.
Sahabat, ketahuilah sesungguhnya kemalangan, kesedihan, dan cobaan yang datang bertubi-tubi menimpa diri kita adalah sebuah anugrah yang tak ternilai harganya. Sebab dengan ujian tersebut Allah hendak memilih kita menjadi kekasih-NYA dan semakin mendekatkan diri kita kepada-NYA. Bukankah dengan jalan kemalangan dan kesialan yang datang bertubi-tubi akan membuat diri kita semakin banyak berdoa dan berkeluh kesah kepada-NYA, sehingga semakin banyak waktu yang kita gunakan untuk selalu mengingat-NYA. Yang dengan demikian Allah hendak membuat diri kita kelak diingat oleh-NYA seperti kita mengingat-NYA selama hidup di dunia ini.
Sahabat, Allah memberikan dua pilihan kepada kita. Pertama, Kita diberikannya hidup dengan segala kemudahan dan kemewahannya sehingga kita menjadi seorang yang lalai mengingat-NYA sehingga nanti Allah pun akan melupakan kita seperti kita melupakan-NYA selama hidup di dunia ini. Kedua, Kita diberikan hidup dengan berbagai ujian dan kemalangan yang menerpa sepanjang hidup, sehingga kita senantiasa rajin ber-istighfar dan berdoa seraya mengingat-NYA dan kelak di akherat Allah akan menyambut kita dengan Senyuman serta mendekat-kan diri kita Kepada-NYA dan itu adalah kekal abadi. Kira-kira mana yang akan kita pilih? Kebahagian yang sesaat di dunia ini atau Kemalangan sesaat yang kita pilih? Silahkan renungkan sendiri.
Sahabat, kalau boleh saya ibaratkan diri kita ini seperti Guci dari negeri Tiongkok yang terkenal itu. Guci yang sangat indah dan kokoh itu dulu hanyalah segumpal tanah liat. Dan untuk menjadi sebuah guci yang indah harus mengalami beberapa fase proses yang panjang. Dari mulai tanah liat tersebut di hantam cangkul, di injak-injak, di guyur air, di press, kemudian di remet-remet untuk menjadi bentuk tertentu, di gores dengan pisau untuk menciptakan ornament, kemudian di jemur di terik matahari, kemudian di bakar di dalam oven bersuhu 1000 derajat. Dan hasilnya sungguh menakjubkan. Bukankah diri kita juga berasal dari tanah liat? Dan untuk menjadi bagus kita harus ditempa dengan segala bentuk ujian dan kemalangan, seperti layaknya guci keramik tersebut.
Sahabat, setiap diri kita mungkin pernah merasakan hal-hal yang kurang mengenakan dan tidak kita harapkan dalam hidup ini. Kita menjadi sedih karenanya, itu wajar dan memang seharusnya kita bersedih dan berduka. Dan bersyukurlah karena dengan kemalangan dan kesedihan itu akan membawa diri kita semakin dekat kepada-NYA, semakin banyak waktu yang kita gunakan untuk senantiasa mengingat-NYA, dan banyak hal lain lagi yang akan menuntun diri kita menjadi manusia yang mawas diri di hadapan-NYA. Bukankah Dia sudah menjelaskan kepada kita, bahwa hidup di dunia ini sekedar main-main belaka. Sebab kehidupan sejati akan kita dapatkan setelah kehidupan ini.
Sahabat, semoga uraian saya ini dapat menginspirasi buat pencerahan hati kita. Ingatlah Allah tidak pernah Tidur, Dia senantiasa sibuk mengurus urusan mahluk-NYA. Dan kita senantiasa diperhatikan oleh-NYA. Percayalah bahwa kemalangan yang kita dapati adalah sebuah keberuntungan yang tidak ternilai harganya. Sadarilah dan renungilah, semoga Allah berkenan pada diri kita. Salam.
Minggu, 21 Juni 2009
Berbahagialah Sahabat…
Sahabat, rasanya hari ini sangat pantas Anda-anda sekalian mendapatkan ucapan selamat atas kehidupan yang hari ini masih sahabat sekalian genggam dan nikmati di dunia ini. Dan sungguh beruntung sahabat mendapatkan kesempatan dan kepercayaan dari Tuhan kita, Allah SWT, menjadi satu dari sekian milyar manusia yang pernah Dia ciptakan dimuka bumi ini dengan Cinta dan Kasih sayang-NYA, untuk tetap menempuh pendidikan di institusi “Jagad Raya” ini. Mengapa saya katakan demikian?
Sahabat, banyak lho dari saudara-saudara kita yang tidak diberikan kepercayaan dan kehormatan oleh Allah untuk menempuh pendidikan dan pengajaran di institusi yang sangat luar biasa ini, mereka harus segera kembali ke Pencipta-NYA, sesaat setelah lahir, atau hanya diberikan kesempatan belajar hanya sebentar untuk ‘menuntut ilmu’, bahkan ada saudara-saudara kita yang belum lahir pun sudah harus ’kembali’.
Sahabat, tahukah Anda bahwa kehidupan di dunia ini adalah sebuah ‘Institusi Pendidikan’ buat Ruh kita; sebuah kawah candradimuka buat Jiwa kita; dimana diri kita akan ditempa dan digembleng sehingga menjadi mahluk yang pantas mendapatkan hormat dari para malaikat, iblis dan mahluk-mahluk lainnya. Intitusi yang hanya diberikan pada sahabat-sahabat tercinta untuk menerima tetesan-tetesan Ilmu-NYA, sehingga dengan demikian Dia hendak menempatkan diri kita beberapa derajat pada posisi yang lebih terhormat dihadapan mahluk-mahluk lainnya.
Sahabat, pernahkah terlintas dan terpikir dalam benak sahabat seandainya kita tidak pernah bersemayam dalam raga ini? Kira-kira apa yang ada dalam bayangan sahabat sekalian? Bukankah kita akan tinggal di alam penantian, yang hanya menunggu datangnya hari kiamat. Seandainya, itu yang terjadi pada diri kita, maka rasanya kita tidak akan pernah mengenal dan mendapatkan percikan Ilmu Allah, yang jika ditulis dengan tinta sebanyak air samudra, ditambah tujuh kalinya lagi tidak akan cukup buat menuliskan Ilmu-NYA. Rasanya kita tidak akan pernah tahu apa itu Fisika, Kimia, Matematika, Sastra, Astronomi, Biologi, Musik, dan masih banyak Ilmu-ilmu lainnya yang hanya bisa kita dapatkan di kehidupan dunia ini dan hanya bisa kita lakukan jika ‘Ruh’ kita mendiami raga kita sekarang ini. Rasanya sangat mustahil ya, kalau kita hidup di alam ruh, kemudian kita bisa mempelajari ilmu-ilmu faal atau ilmu kedokteran atau ilmu-ilmu lainnya. Atau mungkinkah kita bisa membuat kapal laut, tanpa pernah belajar hukum Archimedes, atau bisakah kita membuat pesawat terbang dan kemudian menerbangkannya tanpa pernah tahu hukum Bernouli? Rasanya tidak mungkin, sebab ilmu-ilmu itu hanya bisa kita pelajari disini, bukankah begitu sahabat? Waallahua’alam bishawab.
Oleh karena itu, diawal saya mengucapkan selamat kepada sahabat-sahabat sekalian. Berbahagialah, karena Anda mendapatkan jatah satu ‘kursi’ dibangku pendidikan yang sangat luar biasa ini. Anda bisa mendapatkan kesempatan emas ini secara gratis, tidak perlu antri untuk mendaftar, tidak perlu menjalani berbagai test akademik, psikotest, dan test-test lainnya. Dan lebih hebatnya lagi, Institusi Pendidikan ini, tidak memunggut biaya sepeserpun. Bahkan kita mendapatkan ‘beasiswa’ se-umur hidup, diberikan fasilitas gratis, rumah, mobil, dan perlengkapan hidup lainnya. Dan ‘beasiswa’ itu, Ia berikan kepada seluruh ‘siswa’ tanpa terkecuali; ingat tanpa Terkecuali! meskipun ‘siswa’ tersebut buandel, pembangkang, tidak bisa diatur, tidak pernah mengingat-NYA, apalagi bersyukur kepada-NYA. Tetapi Allah, tetap memberikannya jatah ‘beasiswa’-nya tanpa dipotong barang sedikit pun. Subhanallah, Sungguh Maha Sempurna ada-NYA.
Sahabat, ingatlah nasehat para bijak ‘janganlah berhenti untuk belajar’. Selama Ruh kita masih bersemayam dalam raga ini, teruslah belajar dan belajar. Belajar bukan berarti kita harus duduk di bangku-bangku sekolahan, seperti yang sahabat pahami selama ini. Tetapi belajar bisa kita lakukan dimana pun dan kapan pun dan dari siapa pun datangnya. Belajar dari alam dan lingkungan, Semoga kita benar-benar menjadi mahluk yang pantas mendapatkan kehormatan yang sangat luar biasa ini. Sadarilah dan renungilah, semoga Allah berkenan pada diri kita. Salam.
Sahabat, banyak lho dari saudara-saudara kita yang tidak diberikan kepercayaan dan kehormatan oleh Allah untuk menempuh pendidikan dan pengajaran di institusi yang sangat luar biasa ini, mereka harus segera kembali ke Pencipta-NYA, sesaat setelah lahir, atau hanya diberikan kesempatan belajar hanya sebentar untuk ‘menuntut ilmu’, bahkan ada saudara-saudara kita yang belum lahir pun sudah harus ’kembali’.
Sahabat, tahukah Anda bahwa kehidupan di dunia ini adalah sebuah ‘Institusi Pendidikan’ buat Ruh kita; sebuah kawah candradimuka buat Jiwa kita; dimana diri kita akan ditempa dan digembleng sehingga menjadi mahluk yang pantas mendapatkan hormat dari para malaikat, iblis dan mahluk-mahluk lainnya. Intitusi yang hanya diberikan pada sahabat-sahabat tercinta untuk menerima tetesan-tetesan Ilmu-NYA, sehingga dengan demikian Dia hendak menempatkan diri kita beberapa derajat pada posisi yang lebih terhormat dihadapan mahluk-mahluk lainnya.
Sahabat, pernahkah terlintas dan terpikir dalam benak sahabat seandainya kita tidak pernah bersemayam dalam raga ini? Kira-kira apa yang ada dalam bayangan sahabat sekalian? Bukankah kita akan tinggal di alam penantian, yang hanya menunggu datangnya hari kiamat. Seandainya, itu yang terjadi pada diri kita, maka rasanya kita tidak akan pernah mengenal dan mendapatkan percikan Ilmu Allah, yang jika ditulis dengan tinta sebanyak air samudra, ditambah tujuh kalinya lagi tidak akan cukup buat menuliskan Ilmu-NYA. Rasanya kita tidak akan pernah tahu apa itu Fisika, Kimia, Matematika, Sastra, Astronomi, Biologi, Musik, dan masih banyak Ilmu-ilmu lainnya yang hanya bisa kita dapatkan di kehidupan dunia ini dan hanya bisa kita lakukan jika ‘Ruh’ kita mendiami raga kita sekarang ini. Rasanya sangat mustahil ya, kalau kita hidup di alam ruh, kemudian kita bisa mempelajari ilmu-ilmu faal atau ilmu kedokteran atau ilmu-ilmu lainnya. Atau mungkinkah kita bisa membuat kapal laut, tanpa pernah belajar hukum Archimedes, atau bisakah kita membuat pesawat terbang dan kemudian menerbangkannya tanpa pernah tahu hukum Bernouli? Rasanya tidak mungkin, sebab ilmu-ilmu itu hanya bisa kita pelajari disini, bukankah begitu sahabat? Waallahua’alam bishawab.
Oleh karena itu, diawal saya mengucapkan selamat kepada sahabat-sahabat sekalian. Berbahagialah, karena Anda mendapatkan jatah satu ‘kursi’ dibangku pendidikan yang sangat luar biasa ini. Anda bisa mendapatkan kesempatan emas ini secara gratis, tidak perlu antri untuk mendaftar, tidak perlu menjalani berbagai test akademik, psikotest, dan test-test lainnya. Dan lebih hebatnya lagi, Institusi Pendidikan ini, tidak memunggut biaya sepeserpun. Bahkan kita mendapatkan ‘beasiswa’ se-umur hidup, diberikan fasilitas gratis, rumah, mobil, dan perlengkapan hidup lainnya. Dan ‘beasiswa’ itu, Ia berikan kepada seluruh ‘siswa’ tanpa terkecuali; ingat tanpa Terkecuali! meskipun ‘siswa’ tersebut buandel, pembangkang, tidak bisa diatur, tidak pernah mengingat-NYA, apalagi bersyukur kepada-NYA. Tetapi Allah, tetap memberikannya jatah ‘beasiswa’-nya tanpa dipotong barang sedikit pun. Subhanallah, Sungguh Maha Sempurna ada-NYA.
Sahabat, ingatlah nasehat para bijak ‘janganlah berhenti untuk belajar’. Selama Ruh kita masih bersemayam dalam raga ini, teruslah belajar dan belajar. Belajar bukan berarti kita harus duduk di bangku-bangku sekolahan, seperti yang sahabat pahami selama ini. Tetapi belajar bisa kita lakukan dimana pun dan kapan pun dan dari siapa pun datangnya. Belajar dari alam dan lingkungan, Semoga kita benar-benar menjadi mahluk yang pantas mendapatkan kehormatan yang sangat luar biasa ini. Sadarilah dan renungilah, semoga Allah berkenan pada diri kita. Salam.
Langganan:
Postingan (Atom)